JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN Tahun 16, Nomor 1, Juni 2006 Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah Sistem Bandongan untuk Pendidikan Abstract: The present article outlines a study on how Kiai and santri operate Bandongan in the teaching of farming around Pesantren (Islamic Boarding School). Participants of this qualitative research were farmers living around the Pesantren. For the purpose of data collection, participatory observations and detailed interviews were carried out. Bandongan as a training approach functions to switch the ―monoculture‖ farming to the ―multicropping‖ one the success of which is very much dependent upon the charisma of the Kiai, who secures and maintains a ―spiritual‖ public image and legitimate leadership. Key words: vocational education of agriculture, bandongan system, and pondok pesantren Pembelajaran sistem bandongan (pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kelompok khas pesantren) yang digunakan untuk pelatihan keterampilan pertanian merupakan hal baru bagi dunia pen-didikan, setidaknya untuk pendidikan di kalangan pondok pesantren. Hal semacam itu hanya bisa terjadi di desa yang berbasis pondok pesantren. Sistem bandongan sudah mentradisi di pesantren khususnya dalam mengkaji berbagai ilmu keagamaan (Dhofier, 1983:28). Sistem itu mem-punyai keunggulan yang dapat menghasilkan individu terampil dan ber-tindak jujur atas dasar norma, etika, dan agama. Dengan kata lain, dapat memproduksi sumberdaya manusia yang ―utuh‖ dalam arti trampil secaraIpteks dan Imtaq, atau ilmu dunia yang diintegrasikan dengan ilmu agama yang merupakan cita-cita pesantren (Steenbrink, 1986:227).
METODE
HASIL
Pelaksanaan Pendekatan Sistem Bandongan
Tujuan Penggunaan Interaksi Sistem Bandongan
Ciri Materi dan Evaluasi
Pola Kegiatan Interaksi Sistem Bandongan
Sistem Bandongan untuk Pelatihan Pertanian
JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN -Tahun 16, Nomor 1, Juni 2006
Tak Berkategori | By: admin
Keterampilan Pertanian
di Desa Berbasis Pesantren
Tajur Rizal Ach. Fatchan
Bandongan merupakan pendekatan yang cukup dominan di pondok pesantren yang ada di Jawa. Landasan filosofi yang melatarbelakangi diterapkannya pendekatan sistem bandongan adalah bahwa belajar merupakan upaya mengumpulkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Budaya bisu atau suasana diam (silent) merupakan suasana yang kondusif. Perkataan yang menyinggung perasaan atau otoritas Kiai akan dapat menghambat barokah atau ilmu yang tak dapat bermanfaat. Dalam pelaksanaannya Kiai memberikan petunjuk agar pelatihan itu dilakukan ―sambil menyelam minum air‖ yakni sambil melatih keterampilan pertanian juga ndandani akhlaq pesertanya dengan menggunakan sistem bandongan (Dhofier, 1983:28; dan Irhamni, 1993:92).
Berbagai jenis pelatihan keterampilan pertanian yang dilaksanakan dengan sistem bandongan antara lain pertanian campuran (multiple cropping), pertanian padi sawah, pertanian tanaman palawija, pertanian tanaman sayuran dan hortikultura, peternakan ayam, kambing, dan sapi. Pelaksanaan pelatihan keterampilan dilakukan secara tidak formal dan tidak menggunakan kurikulum yang baku. Artinya, pelaksanaan pelatihan lebih mengacu pada berbagai pengalaman hidup Kiai dan para Ustadz serta para santri senior sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulunya. Tujuan penelitian ini adalah ingin memahami tindakan Kiai dan santri melakukan pelatihan keterampilan pertanian sistem bandongan kepada masyarakat petani di sekitar pesantren dan kondisi konteks yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berupaya mengungkap proses dan pelaksanaan pelatihan keterampian pertanian dengan sistem bandongan oleh Kiai dan santri kepada para petani yang ada di sekitarnya. Lokasi penelitian ini dilakukan di desa santri Karangploso Malang sebagai desa kasus yang menunjukkan fenomena kompleks sejalan dengan keinginan dan tujuan studi ini. Di desa peneliti-an sejak lama telah berdiri satu pesantren sebagai simbol identitas masya-rakat santri, sumber etika agama, dan tempat pengembangan pertanian bagi masyarakat sekitar. Pengumpulan data atau informasi penelitian menggunakan teknik observasi partisipasi, persistent obersvation (nginthil = bahasa Jawa), dan wawancara mendalam. Subjek penelitian ini adalah Kiai, santri, dan petani yang terlibat langsung dalam pelatihan keterampilan pertanian yang ditentukan secara snow ball dengan meng-gunakan key informant tokoh masyarakat formal dan informal yang berkompeten. Untuk mengetahui motif sebab (because motives) dan motif tujuan (in order to motives) tindakan individu digunakan pisau analisis fenomenologi. Analisis data menggunakan model analisis interaktif seperti yang dianjurkan oleh Miles dan Haberman (1994:10).
Pendekatan sistem Bandongan berasal dari ―kata‖ bahasa Jawa bandong yang mendapatkan akhiran an. Bandong artinya kelompok atau mengelompok. Bandongan berarti yang dikelompokkan dalam satu ikatan. Istilah lain dari sistem bandongan adalah sistem weton yang berarti satu keluaran atau angkatan. Interaksi bandongan merupakan interaksi dengan pendekatan secara kelompok (group approach) menjadikan interaksinya berlangsung cukup akrab walau tidak cukup intim. Dalam pelaksanaannya setiap kelompok santri atau peserta didik memperoleh perlakuan yang berbeda-beda dari seorang Kiai atau ustadz sesuai dengan kelompok angkatannya. Pendekatan dengan interaksi sistem bandongan dilakukan terhadap peserta didik santri senior dan bukan santri pemula atau boleh dikatakan sebagai lanjutan dari pendekatan sistem sorogan.
Sistem bandongan merupakan suatu pendekatan di mana peserta didik berupaya menumpuk pengetahuan dan keterampilan sebanyak-banyaknya. Pola interaksi lebih berjalan satu arah di mana pelatih (Kiai dan ustad atau santri senior) yang lebih aktif atau mendominasi kegiatan. Akan tetapi, ketika pengetahuan itu telah tertumpuk, para peserta didik dalam kelompok tersebut berdiskusi atau berdialog secara kritis sesama peserta seangkatan, permasalahan yang dijumpai didialogkan kepadapelatih (Kiai dan ustad atau santri senior). Dalam praktik diskusi tersebut biasanya ditemukan hal-hal baru tentang pemahaman kehidupan keagamaan dan pemahaman ilmu pengetahuan serta keterampilan masa kini. Pada interaksi sistem bandongan terpupuk nilai-nilai keberanian untuk berdialog dan pengembangan pengetahuan dari para peserta didik. Hal itu sebagai upaya memperkaya pengetahuan yang diperoleh saat mengikuti pelatihan. Pola interaksi ini diberlakukan kepada para santri atau peserta didik yang telah senior. Interaksi dilakukan secara berkelom-pok dimana peserta didik berupaya menyerap pengetahuan keagamaan sebanyak-banyaknya. Hal demikian itu juga telah dikemukakan oleh Dhofier pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1983. Untuk memperdalam pengetahuan, para peserta didik sering melakukan dialog dengan Kiai atau Ustadz yang dilakukan secara immersing tidak saja kepada pelatih, tetapi juga kepada materi yang dikaji. Dengan demikian peserta didik mencontoh gaya hidup pelatihnya yang umumnya tampak berpola hidup agamis, bersahaja, sederhana, berwibawa dan berkomitmen terhadap materi yang dikaji, sehingga secara alamiah dapat lahir sebagai kelompok-kelompok kelas tertentu berdasar bidang kajian. Masing-masing kelompok kelas tersebut mempunyai kemampuan yang relatif hampir sama dan dalam bidang kajian yang sama.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sistem bandongan diterapkan untuk melayani pelatihan sesuai dengan kemampuan dan kemauan secara kelompok untuk mengkaji kitab kuning. Dengan demi-kian, diharapkan dapat memacu semangat para peserta didik, mempererat hubungan antar pelaku interaksi, dan mencontoh keteladanan Kiai. Peserta didik harus mencelup dengan kehidupan sehari-hari para pelatih dan materi yang dipelajari sesuai dengan pilihan peserta didik. Pendekatan interaksi sistem bandongan merupakan ajang pelatihan bagi peserta didik untuk menerapkan kemampuan dan keterampilannya terhadap materi yang dipelajari. Peserta didik dapat mengkaji secara ber-sama-sama dengan kelompok seangkatan dan semateri untuk dapat ber-dialog dengan pelatih secara langsung tentang perkembangan kehidupankeagamaan. Dengan berlatih secara ajeg maka peserta didik menjadi terbiasa dan terampil dalam mengembangkan wawasannya.
Pendekatan ini langsung mengarah pada spesifikasi materi yang dikaji. Dengan begitu totalitas pengetahuan peserta didik dalam mempe-lajari materi sangat memungkinkan pelibatan terhadap pengetahuan masa lampau (entry behavior), pengetahuan yang sedang dipelajari, dan kondisi konteks kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan masa kini. Hal itu menunjukkan bahwa para pelaku pelatih dan peserta didik melakukan interaksi secara komunikatif untuk bersama-sama menambah pengetahuannya. Dengan kata lain, pendekatan ini mengarah pada pema-haman pengetahuan keagamaan secara komprehensif untuk selanjutnya diinternalisasikan sebagai bagian kekayaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, yang kemudian diamalkan dalam kehidupan di masyarakat. Hal semacam itu senada dengan temuan penelitian Steenbrink (1986).
Secara klasik pendekatan sistem bandongan digunakan untuk mempelajari berbagai kitab kuning yang berisi ilmu-ilmu keagamaan dari sudut pandang berbagai ilmu pengetahuan yang ada di pondok pesantren. Pengkajian itu dilakukan secara kelompok sesuai dengan materi yang diinginkan masing-masing kelompok. Menurut Dhofier, satu kelompok berjumlah 5 sampai 20 orang bahkan sampai 500 orang (Dhofier, 1983: 28). Sebanyak lima orang jika untuk melatih santri ―dalam‖ dan santri ―titipan‖, 20 orang jika untuk melatih para santri pondok pada umumnya, dan 500 orang jika untuk pengajian umum bagi santri dan masyarkat di sekitarnya. Pengajian umum semacam itu di pesantren lokasi penelitian ini biasanya dilakukan pada setiap hari Jum’at siang dan minggu pagi dengan peserta para santri pondok, para jama’ah tahlil, dan masyarakat yang ada di sekitar pondok pesantren. Jumlah pesertanya mencapai 300 orang atau lebih.
Sama halnya dengan sistem sorogan, sistem bandongan juga mempelajari berbagai kitab kuning baik yang berbentuk ritme sair (nadzm) maupun bentuk uraian permasalahan. Bedanya, sorogan lebih pada detail pemahaman teks dan konteksnya sedangkan bandongan lebih pada komprehensif kajian dari sudut pandang berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup dengan cara mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Hal yang sama juga telah diungkap oleh Irhamni (1993).
Evaluasi dan monitoring pelaksanaan pelatihan biasanya dilakukan pada saat peserta didik melakukan diskusi diantara mereka dan pada saat dialog dengan pelatih (Kiai atau Ustadz). Kemampuan menerjemahkan kitab dalam hal makna secara tekstual dan kontekstual merupakan acuan yang paling urgen dalam menentukan penilaian kemampuan atau keber-hasilan peserta didik. Di pesantren lokasi penelitian, kemampuan penguasaan ilmu yang didapat peserta didik dianggap mumpuni jika Kiai telah berani memberikan kepercayaan untuk berceramah di depan umum, membimbing suatu pengajian, membimbing diskusi kelompok dintara para santri lainnya, dan atau diberi kepercayaan untuk memimpin serta mengelola suatu kegiatan tertentu seperti memimpin dan mengelola kegiatan pelatihan keterampilan pertanian, contohnya seperti Maksum (santri senior yang diserahi untuk mengelola usaha pertanian di pesantren yang menjadi subjek penelitian ini).
Dalam interaksi sistem bandongan peserta didik dapat bertatap muka secara berkelompok serta berdialog antar peserta dan kadang-kadang langsung dengan pelatih atau Kiai. Kiai atau ustadz adalah narasumber yang diharapkan dapat menstransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan serta untuk diteladani dalam bentuk mencelup pada kehi-dupan sehari-hari Kiai atau ustadz (pelatih). Oleh karena itu, pembimbing atau pelatih pada pendekatan sistem bandongan merupakan orang-orang pilihan atau alim. Setiap kegiatan yang akan dimulai senantiasa diawali dengan membaca ―bismillah‖ dan atau ―Al-Fatihah‖ dan kegiatan senan-tiasa diakhiri dengan bacaan ―alhamdulillah‖.
Pelaksanaan pendekatan sistem bandongan prosesnya seperti berikut. Pelatih membaca dan menguraikan dengan seksama materi yang dilatihkan. Pelatih memberikan penjelasan dengan memberikan berbagai komentar tentang makna yang ada dibalik teks yang dikaji dan mengulas kaitannya dengan kondisi kontekstual yang ada. Peserta didik secara berkelompok menyimak dan menganalisis dengan cara memberi berbagai tanda atau catatan dalam materi (kitab) yang dibahas, dan begitu seterusnya. Walaupun tergabung dalam satu kelompok minat, peserta didik dapat memilih keahlian yang akan dikembangkan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Pemilahan secara alamiah atas dasar minat dan kemampuan itu menjadikan peserta didik dapat belajar dan berlatih secara leluasa dengan rasa senang dan bukan karena tekanan.
Pola seperti tersebut di atas merupakan aplikasi pola pembelajaran di mana belajar merupakan proses pengembangan pengetahuan dan keterampilan dengan rasa senang bukan karena tekanan atau rasa takut seperti yang dikemukakan oleh Pine and Horn (1987). Dampaknya bagi perkembangan individu adalah ia akan menjadi individu yang dengan rasa senang berupaya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan minat serta bakatnya.
Sistem interaksi bandongan untuk suatu pelatihan keterampilan pertanian di lokasi penelitian dibimbing oleh oleh Kiai, Ustadz, atau santri senior sesuai dengan keterampilan pertanian yang dikuasainya. Pelatihan dilakukan untuk menerampilkan sekelompok santri pondok atau santri ngawulo bahkan para petani di sekitar pondok pesantren yang berkeinginan berlatih keterampilan pertanian.
Pelatih sesuai dengan keterampilannya melatih sekelompok santri atau peserta didik untuk belajar dan bekerja (learning by doing) pada berbagai jenis keterampilan pertanian yang miliki oleh pesantren. Jenis keterampilan yang ada di pesantren lokasi penelitian meliputi peternakan ayam, kambing, penggemukan sapi, pertanian lahan sawah (meliputi: tanaman padi, palawija, dan sayuran yang diusahakan secara monokultur dan multiplecropping), serta kebun jeruk. Jenis keterampilan yang dilatihkan sejalan dengan usaha pertanian yang dimiliki oleh pondok pesantren.
Pola pelaksanaan pelatihan berbentuk semacam magang kerja dalam kurun waktu tertentu. Contoh pelaksanaannya, para santri meng-ikuti dan mencelupkan diri dalam kegiatan usaha tani yang dilakukan atau dicontohkan oleh pelatih. Walaupun tidak tampak dialogis, tetapi pada waktu tertentu dilakukan diskusi secara kelompok antara pelatih ….selengkapnya
Selamat datang di WordPress. Ini adalah tulisan pertama Anda. Sunting atau hapus, kemudian mulai blogging!
Des
16
Halo dunia!
Tak Berkategori | By: admin


















